Kesetaraan Gender

Saat ini saya sedang ada di Buton, Sulawesi Tenggara. Masih ada tugas penelitian yang tersisa dan HARUS dikerjakan, secara saya punya kewajiban menyelesaikan tugas tersebut kepada sang donor. Sementara saya di Buton, suami bertugas ke Kalimantan Timur. Kami akan berada di tempat masing-masing selama dua minggu sebelum bertemu lagi di Jakarta.

Malam kemarin, kami telpon-telponan, bertukar laporan ‘hari ini’ dari Buton dan Kaltim. Di antara berbagai ceritanya, suami sempat bercerita begini:

“Eh iya, kemaren abis antar kamu ke bandara, aku ketemu temen-temen. Mereka nawarin proyek, tapi trus kubilang: waah sori, gak bisa. Gue ke Kalimantan besok, pergi dua minggu”

“Waah gimana bini lo? Kesepian dong ditinggal dua minggu”

Demikian teman-temannya berkomentar. Kami memang masih tergolong pengantin baru, jadi wajar juga kalau teman-temannya berkomentar demikian. Penganten baru kok udah ditinggal pergi.

Tapi suami saya menjawab lagi

“Apaan, gue tadi baru anter dia ke bandara. Ke Buton dia hari ini, pergi duluan, pulang belakangan”.

“ Waaaaa” Cuma itu yang keluar dari mulut teman-temannya.

Yang saya heran, di kota besar modern macam Jakarta, dengan orang-orang modern macam teman-teman suami saya (laki-laki dan perempuan), yang kerjanya juga keluyuran ke mana-mana, kok pikirannya masih: “Laki-laki keluar rumah, perempuan diam di rumah”. Kalo dibalik, bingung deh semua.

Jadi, bagaimana dengan kesetaraan gender? Wuaah, masih lama kaleee……😛

Itu jadi mengingatkan saya pada istilah Women Studies, sebuah istilah yang entah kenapa terasa mengganggu dan membuat saya bertanya-tanya.

Istilah itu pasti dipopulerkan oleh para laki-laki chauvinist yang gak mau dirinya dijadikan obyek (dalam hal ini suatu bidang studi), dan malah menjadikan partner hidup mereka –si perempuan– sebagai obyek. Saya mungkin akan kecewa sekali kalau ternyata Women Studies itu dipopulerkan oleh perempuan. Kok mau-maunya ya menjadikan diri sendiri sebagai obyek.

Atau… mungkin karena para wanita… NARSIS ABISSS!!😉

One thought on “Kesetaraan Gender

  1. Lucky you karena gak jadi bahan male chauvinist.. tapi masih banyak lho yg jadi korban, sadar atau gak sadar. Makanya ada Women studies..😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s