Kartu Peduli Anoa

mt-amoa.jpg

“Jumlah anoa mungkin masih banyak, tapi yang jelas jumlah tersebut terus menurun dari tahun ke tahun”

Demikian bunyi poin pertama dari Kartu Peduli Anoa yang kami sebarkan di Buton, dalam rangka menjaga kelestarian satwa bertanduk runcing tersebut.

Anoa yang nama ilmiahnya Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi (ada dua jenis anoa yang diakui sampai saat ini), adalah sepupu jauh kerbau yang ukuran badannya jauh lebih kecil ketimbang si kerbau. Tinggi bahunya hanya sekitar satu meter. Karena itu jugalah anoa disebut dwarf buffalo atau kerbau kerdil.

Anoa menjadi sangat istimewa karena hanya terdapat di Pulau Sulawesi dan Buton. Satwa endemik, demikian istilah kerennya. Karena istimewanya itu, anoa dipilih sebagai lambang daerah Sulawesi Tenggara, dan Sultra menyebut dirinya sebagai Bumi Anoa. Pas, karena populasi anoa yang tersisa, memang paling banyak terdapat di Sulawesi Tenggara.Selain itu, anoa juga merupakan hewan menyusui terbesar yang hidup di daratan Sulawesi. Mamalia lain yang ada di pulau itu, bervariasi dari monyet sampai bermacam jenis hewan pengerat. Maka jadilah si anoa, biarpun disebut kerdil, tetap saja yang terbesar. Sayangnya, karena dia berukuran besar, dia pula yang paling sering jadi sasaran perburuan, dari jaman baheula sampai sekarang. Akibatnya, sudah banyak anoa punah dari berbagai lokasi di Sulawesi. Mereka pun bersusah payah bertahan, dengan jumlah tinggal 3000-5000 ekor saja di alam. Padahal mereka sudah dilindungi berbagai undang-undang konservasi, baik lokal maupun internasional.

Lalu apa yang bisa saya lakukan? Lumayan banyak ternyata.

Tahun 2005, saya ketiban durian runtuh. Enak tapi sakit, sakit tapi enak. Pas bener. Tahun itu, saya mendapat beasiswa penuh selama tiga tahun untuk meneliti anoa di Lambusango, Buton. Kalau sukses, saya bisa dapat gelar doktor di akhir tahun 2008 berkat sang anoa.

Tapi tugas ini gak gampang. Saya harus menghitung jumlah mereka di hutan Lambusango dengan lebih akurat, gak boleh dikira-kira. Jumlah dan distribusi yang akurat sangat penting artinya untuk menentukan program konservasi dan pengelolaan yang tepat bagi anoa. Namun, secara anoa itu tinggal sedikit, pemalu pula, maka jangan harap bisa berdiri di tengah hutan dan menghitung mereka dengan tenang: satu anoa, dua anoa, dst.

Saya harus muter-muter dulu sebelum bisa keluar dengan angka-angka. Mula-mula saya harus beneran muter-muter di hutan, naik turun bukit, didera panas, hujan dan banjir, untuk menemukan eek anoa yang masih segar dan hangat. Lumayan, seperti juga binatangnya, eek segarnya pun susah dicari. Kalau ketemu, saya ambil sedikit untuk sampel, foto dan kemudian bawa ke universitas saya di Inggris (Koleksi foto eek anoa saya sudah ratusan lho, mau lihat? :P).

Di Inggris, saya akan mengidentifikasi tiap individu anoa secara genetik, dari DNA yang tersisa pada lapisan mengkilat eek segar tersebut. Kalau berhasil, maka teorinya sih, saya bakalan bisa menghitung jumlah anoa dengan lebih akurat.

Tapi nyatanya, identifikasi individu lewat DNA sisa itu, susahnya bikin sakit hati. Tapi gak apa-apalah. Saya masih terus berusaha, demi anoa dan demi mereka yang sudah mempercayakan proyek ini kepada saya.

Nah, sementara saya cari cara terbaik untuk mengatasi sang eek, saya juga harus tahu seberapa besar tingkat perburuan anoa yang masih ada di Buton, sekaligus membantu menyadarkan masyarakat bahwa anoa itu harta alam mereka yang sangat berharga, tidak ada duanya, dan yang pasti, sangat HARUS dipertahankan kelestariannya.

Mati gak sih?

Mengubah image orang akan sesuatu itu kan bukan pekerjaan mudah. Tapi yah.. namanya juga berusaha. Sayangnya, proyek saya ini lebih merupakan proyek penelitian, bukan proyek pendidikan lingkungan. Karena itu, dana yang tersedia untuk kegiatan pendidikan lingkungan sangat sedikit. Tapi tetap saja ada tanggung jawab moral kepada masyarakat dan juga anoa, untuk lebih mengakrabkan mereka secara positif (maksudnya bukan akrab sebagai sumber protein hewani).

Maka, dengan budget pas-pasan, saya cetak gambar tempel sebanyak 1000 lembar, bunyinya “ Buton Melestarikan Anoa”. Sticker itu akan dibagikan pada responden survei perburuan di desa-desa sekitar Lambusango, sebagai ucapan terima kasih sekaligus untuk kampanye kepedulian. Tapi slogan sederhana itu sepertinya jauh dari cukup. Dari hasil sementara survei, banyak responden yang tahu anoa itu dilindungi dan bisa punah karena diburu dan dijerat. Tapi, sebagian besar dari mereka sudah pernah makan anoa, kalau gak malah menangkapnya sendiri di hutan.

Waduh.

Mungkin mereka gak peduli, atau mungkin mereka gak tahu bahwa dilindungi itu artinya gak boleh ditangkap dari habitat aslinya, hidup atau mati. Mungkin mereka gak tahu atau gak peduli, kalau anoa itu sudah sedikit sekali jumlahnya dan bisa punah kapan saja dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Buru-buru deh saya dan teman-teman satu team membuat bahan kampanye lain untuk menemani si sticker. Lagi-lagi karena budgetnya pas-pasan, bahan kampanye ini gak bisa sophisticated. Untungnya kami cepat mendapat ide yang cukup brilliant.

Bahan kampanye itu bentuknya seperti kartu, dengan gambar anoa di depan dan beberapa fakta tentang anoa dibelakangnya. Oleh teman-teman, kartu itu diberi nama Kartu Peduli Anoa. Kami rancang kartu itu supaya bisa digantung di mana-mana: di mobil, jendela rumah, dapur, depan WC, bahkan leher atau telinga sendiri kalau mau. Idenya sih, supaya masyarakat mau menggantung kartu itu di tempat yang bisa mereka lihat setiap hari, lalu teringat terus sama anoa, jatuh cinta dan kemudian berkenan melestarikannya.

Karena itu juga, pada poin terakhir kartu, kami menulis

“ Kita dapat bersama-sama membantu melestarikan anoa dengan tidak menjerat anoa, tidak membeli dan makan daging anoa”

Semoga…

14 thoughts on “Kartu Peduli Anoa

  1. Bagus mbak cerita tentang anoanya, dan memang pekerjaan berat untuk bisa menghitung anoa ini dengan tingkat presisi yang tinggi, he..he. Pembaca yang budiman, Kebetulan saya sempat ikut proyek ngitung anoa bareng sang author web ini di lambusango, sempet hujan2an juga, he..he, so, semoga cepet dapet dugaan angka pastinya ya mbak, berapa sih anoa di Lambusango ini. Ganbatte Mbak..

  2. Mungkin ini yang dinamakan curhat versi bagi2 ilmu tentang anoa. Setidaknya kita semua bisa tahu suka duka Mba dalam meraih PhDnya. Moga2 cepet selesai ya PhDnya. Amien

  3. waduh mbak, segitu cintanya sama anoa sampe2 buat kartu peduli:)….dj dukung kog 100%.m….cerita tentang anoa, iya seh bukan pekerjaan yang mudah apalagi sampai menghitung jumlahx hanya by dung or footprintx. dj salut sma mbak, yang tidak pernah nyerah! selama 3 tahun bo!…..dj kan sempat ikut opwal bareng mbak, jadi tahu kerja mbak di lapangan. ayo…mbak smangat!eh dtunggu publikasinya, jangan lupa ya mbak….:)kapan kemakksar?

  4. wew maaf mbak soal cerpenku “sang pemburu”.. aku ga brmaksud menekankan pada sisi perburuan hewan anoa. lagian sang pemburu dlm cerpenku hidup pd masa pemerintahan to manurung. btw, kl mbak mau, sy bisa edit cerpen saya. makasih atas komennya di blogku n makasih atas infonya ttg anoa di atas. smoga kampanye mbak brhasil..


    “Diah says:
    Saya sudah baca cerpennya dari prolog sampe epilog. Keren! Jangan diedit cerpennya, biar seperti aslinya aja… thanks for the story!”

  5. ada artikel anoa di koran tempo hari ini
    Minggu, 13 Januari 2008
    Perjalanan
    Menyusuri Jejak Anoa

    Menurut cerita penduduk kampung di sekitar Gunung Latimojong, telaga ini kerap menghilang.

    Rasa lelah setelah mencapai Buntu Lebu, ketika mendaki Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan, pada pertengahan Agustus tahun lalu, memaksaku memilih berbaring sejenak. Langit biru cerah tampak dari sela-sela ranting pohon tempat aku berbaring di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut itu. Sesekali awan putih melintas menutupi langit biru sehingga cuaca berubah mendung. Tidak lama setelah awan putih berlalu dan berganti dengan langit biru, cuaca akan cerah dan terang benderang.

    Sinar matahari sangat terik, tapi panasnya dikalahkan oleh sejuknya udara yang dibawa angin yang bertiup tanpa henti.

    Suasana itu membuat mataku terbuai dan memilih terpejam sejenak sambil mendengarkan gemericik air sungai kecil dekat tempatku berbaring. Sesekali mataku terjaga untuk mengagumi tanaman kerdil yang banyak tumbuh di sekitarku, berbunga bak bunga sakura.

    Sementara pemanduku, Ully, sedang sibuk membangun tenda bulan tepat di tepi sungai kecil, aku benar-benar tertidur. Aku baru tersadar saat Ully membangunkan aku untuk makan siang meski hari sudah menjelang sore.

    Setelah makan dan duduk-duduk sebentar di sebuah batu di tepi sungai, aku mulai membersihkan diri dengan air sungai. Sesekali aku meminum air dari telapak tanganku. Wah, rasanya segar.

    Sore itu kami memilih berjalan-jalan menyusuri jejak anoa–binatang khas Sulawesi. Kami memilih mendaki lebih tinggi memanjati tebing-tebing batu yang ditumbuhi pohon kerdil. Jalan akan terasa lebih mudah saat kami hanya melalui kerimbunan pohon yang medannya agak datar.

    Mata kami tak kalah lincahnya dibanding kaki kami. Di antara kerimbunan pohon, kadang kami dapati jejak-jejak kaki binatang. Kata pemanduku, itu jejak anoa. Dalam pengamatanku, itu seperti jejak kaki sapi, tapi ukurannya sedikit lebih kecil.

    Untuk dapat melihat anoa secara langsung, kami pun memilih menyusuri jejak-jejak kaki tersebut. Setelah beberapa lama berjalan, kami mendapati beberapa kotoran binatang yang mirip kotoran kuda tapi warnanya agak hitam itu. “Ini kotoran anoa,” ujar Ully.

    Setelah lama berjalan, usaha kami ternyata tidak sia-sia. Di antara pepohonan yang tumbuh di tebing batu, terlihat dari kejauhan seekor anoa berwarna hitam. Sayang, kami tidak dapat mendekat karena tebing tempat anoa itu berada di seberang bukit.

    Duduk sejenak untuk mengambil napas, kami pun mengambil arah ke kanan dengan medan sedikit memanjat. Ternyata Ully mengajakku untuk melihat telaga biru, salah satu tempat minum bagi anoa.

    Menurut cerita penduduk kampung di sekitar Gunung Latimojong, telaga ini kerap menghilang. Ternyata betul, saat kami tiba, kami tidak menemukan telaga tersebut.

    Bukan menghilang, melainkan kering. Jadi, jika kita ingin melihat telaga ini, sebaiknya datang pada pagi hari karena telaga ini terbentuk dari kumpulan embun. Sehingga, pada siang hari, telaga akan menguap dan kering.

    Meski demikian, kita dapat mengetahui lokasi telaga itu dari tumbuhannya, yakni berupa rerumputan yang khas dan berbeda dengan wilayah yang bukan telaga. Dari jenis tanaman ini, kami bisa memperkirakan luas telaga sekitar 50 meter persegi. Di sekitar telaga itu terdapat beberapa telaga lebih kecil.

    Hari mulai gelap. Medan pun cukup sulit: terjal dan licin. Tentu berbahaya untuk berjalan dalam keadaan seperti itu. Kami pun memutuskan segera kembali ke tenda. Penyusuran anoa akan kami lanjutkan esok pagi dengan harapan kami dapat melihat anoa dari dekat.

    Cuaca malam itu begitu dingin. Meski aku sudah memakai berlapis-lapis pakaian, ditambah jaket, hawa dingin masih menembus hingga menusuk tulang. Rasanya ingin masuk ke tenda dan memakai kantong tidur. Tapi pemandangan pada malam hari tak kalah indahnya dibanding siang hari. Di kejauhan terlihat bintang-bintang bertaburan. Cahaya yang terpancar tampak sangat jelas, membuat mata sulit terpejam.

    Semakin larut, dingin semakin menusuk, sampai-sampai aku sulit melawannya. Akibatnya, kedua kaki dan tanganku beku. Hal ini membuatku sulit melewatkan malam dengan beristirahat dan tidur nyenyak. Sehingga malam itu terasa lebih panjang daripada biasanya.

    Pagi harinya, setelah beristirahat dan bersiap-siap, kami melanjutkan perjalanan menuju telaga biru. Kami menemukan telaga yang dimaksud, tapi tidak seluas biasanya. Sayang, lagi-lagi kami tidak mendapati anoa karena matahari sudah mulai meninggi. Yang kami temukan hanya jejak-jejak kaki anoa. Irmawati

    Populasi Anoa yang Terus Berkurang

    Selain di Pegunungan Latimojong, jejak-jejak kaki anoa bisa kita temukan di tempat lain di Sulawesi Selatan. Menurut data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, anoa dapat kita temukan di Pegunungan Quarles, Cagar Alam Faruhumpenai, Bone, Majene, Luwu Utara, Luwu Timur, Mamuju, Enrekang, Mamasa, dan Tana Toraja.

    Di Kabupaten Luwu Utara, misalnya, kita dapat menemukan anoa di Kecamatan Rampi, yang terbagi dalam enam desa, dengan luas wilayah 1.565,65 kilometer persegi. Dari luasannya ini, 93,7 persen merupakan wilayah hutan yang medannya berupa pegunungan dengan ketinggian rata-rata 1.000-1.300 meter di atas permukaan laut.

    Akses menuju Rampi ini tak kalah menantang dibanding akses menuju Pegunungan Latimojong di Enrekang. Perjalanan kita mulai dari Kota Masamba menuju Kecamatan Rampi, tepatnya Desa Leboni sebagai desa terdekat. Perlu waktu tiga hari untuk sampai ke sana. Setengah hari naik kendaraan jenis roda empat double gardan atau jenis jp, bisa juga dengan roda dua, tapi harus sepeda motor jenis tertentu. Selain kualitas kendaraan yang memadai, pengendaranya harus yang betul-betul menguasai medan.

    Untuk dapat melihat langsung anoa, perjalanan harus dilanjutkan berjalan kaki selama dua hari.

    Menurut Dewi Sulastriningsih, dari BBKSDA Sulawesi Selatan, anoa terbagi dalam dua spesies, yakni anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). “Anoa pegunungan tersebar di hutan pegunungan Sulawesi, yakni golongan hutan perawan yang terdapat jenis buah, daun-daun, rumput-rumput, lumut, dan pakis sebagai bahan makanannya,” ujar Dewi.

    Satwa endemi Pulau Sulawesi ini sejak 1931 digolongkan sebagai salah satu satwa langka yang dilindungi negara. Karena itu, kita sama sekali dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakannya dalam keadaan hidup atau mati ataupun bagian-bagian dari satwa ini. Kalau cuma menyaksikan langsung, boleh-boleh saja.

    Anoa pegunungan memiliki ciri-ciri berbeda dengan anoa dataran rendah. Anoa pegunungan umumnya memiliki warna lebih hitam, bulu lebih tebal, tanduk pendek berbentuk kerucut, panjang tubuh berkisar 160-172 sentimeter, panjang ekor berkisar 18-31 sentimeter, tinggi badan anoa dewasa hanya 75 sentimeter, dan berat badan sekitar 150-300 kilogram.

    Mengenai populasi anoa, di daerah observasi seluas 8.942 hektare, misalnya, diperkirakan sekitar 30-138 ekor. Sementara itu, populasinya di hutan lepas relatif sulit dihitung mengingat sifatnya yang soliter dan daya jelajahnya sekitar 500 hektare atau radius sekitar 400 meter.

    Meski satwa yang satu ini hidup di wilayah yang masih terisolasi, bukan berarti tanpa ancaman. Selain kondisi alam dan karakteristik satwa, tingkat reproduksinya rendah, yakni satu ekor per tahun.

    Kegiatan manusia juga berpengaruh, apalagi jika ada perburuan dan perusakan hutan, yang berarti terjadi fragmentasi habitat yang dapat mengurangi pergerakan satwa ini sehingga meningkatkan risiko kepunahan. “Banyaknya kawasan konservasi yang ada sebagai habitat anoa bukan jaminan akan kelestariannya,” kata Dewi. Irmawati


    “Diah says:
    Makasih Mas buat artikelnya. Buat tambah-tambah ilmu tentang anoa ni”

  6. maksih y bu diah buat artikelnya…ney ajang nambah pengetahuan…walau aq pernah ikut proyek opwal,tapi aq g penah ikut penelitian ibu tentang anoa,,ternyata kerja bu diah dalam penelitian ney g mudah ya…ngikutin hewan seliar n seganas anoa..
    semangat!!!! moga PhD nya cepat selesai…

  7. Pingback: Anoa Lambusango: Sebuah ironi « D33’s open book

  8. dari tadi dicari foto hewan mamalia, Aves n Reptilia gk ada, tuluuuung donk dimasukkin gitu foto – fotonya biar bisa cocokin muka gitu!!!!!!!!!!!!


    “Diah says:
    Nyari foto anoa? tulis aja di google anoa Bubalus depressicornis, trus click ‘image’ ato ‘cari gambar’ Banyak kok gambarnya… Ini juga sudah ta’ pasang fotonya. Semoga berhasil menemukan yang dicari😉

  9. Anoa….
    di yang saya tau nihh di Sulsel hanya ada di Kab. Luwu Utara & Luwu Timur, Kabupaten yang bertetangga dengan Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah & Sulawesi Barat.
    Khusu di Kab. Luwu Utara Populasi Anoa hanya ada di 4 Kecamatan yaitu Kec. Masamba, Limbong, Seko & Rampi.
    Kalau mau datang ke Luwu Utara aku siap ngatarin masuk hutan.

    gimana caranya aku bisa masukin foto2 hutannya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s