ASI? Ofcourse not. Sedihnya punya baby cbl itu karena dia kurang bisa menyusu langung dari ibunya. Jika langit-langitmu bolong dan mencoba untuk menghisap sesuatu, bayangkan saja seperti mencoba menyedot segelas susu dengan sedotan bocor, susah banget kan? Nah, seperti itulah kira-kira yang terjadi pada Rael. Perah ASI? sudah dong dicoba, tapi sayangnya saya bukan produsen ASI yang baik, biar diperah sepanjang hari, maksimal cuma 50cc. Ya sudahlah, memang nasib Rael jadi anak sapi kaleng hehe..
Ngedot? Dengan alasan yang sama seperti di atas, katanya juga gak bisa. Makanya dari waktu di RS, Rael dikasih susu memakai pipet. Pipet yang dibuat dari spuit, suntikan tanpa jarumnya. Ya iyalah, masa pake jarumnya
. Dan bayi itu memang amazing ya… cepatnya dia beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan utamanya dalam berkembang, eat and drink, jadi dengan spuit pun Rael tidak kesulitan untuk minum susu. Tapi spuit ini cepat rusak di bagian karetnya, jadi sebentar saja sudah seret, sulit sekali mendorong susu keluar dari spuit. Cari suntikan juga susah, gak semua apotek mau menjual suntikan. Atau kalaupun ada, yang ukurannya kecil-keciil, lama kenyangnya dong Rael. Akhirnya bapak Rael beli spuit yang untuk obat, lumayan besar ukurannya, lumayan juga harganya
. Beli dua waktu itu, untuk persediaan seandainya yang satu cepat rusak juga. Oia, Rael dari RS dikasihnya susu S26, jadi kita teruskan saja dia minum S26.
Paling tidak, Rael gak dipasangi sonde seperti banyak bayi cbl yang lahir di RS-RS lain. Sampai sekarang saya bersyukur Rael lahir di RSF yang gak pernah mengenalkan sonde padanya. Sonde adalah selang yang dimasukkan langsung ke saluran makan baby via hidung. Biasanya dipakai oleh orang sakit yang sudah gak mampu makan. Euh, kebayang kan, masa bayi sehat walafiat gitu musti pake sonde. Untung banget deh, Rael gak pernah dipakein sonde. Continue reading









