England

Pertama kali datang ke England tahun 1999. Saya datang tanpa teman, contact person hanyalah pembimbing akademik yang asli Inggris. Waktu itu dengan excited saya membayangkan, berteman dengan bule-bule, ngomong Inggris terus, ikut pesta-pesta mereka, benar-benar masuk ke budaya mereka. Setahun penuh, pokoknya gaul ala Inggrislah.

Gak taunya, di hari kedua saya di sana, saat sedang duduk sepi sendiri di flat yang sunyi (saya belum punya flatmate waktu itu), saya mendengar obrolan berbahasa Indonesia di bawah jendela. Bahasa Jakarta bahkan! Wow.Langsung saya melongok keluar jendela, “are you Indonesian?” Iyaa.. jawab mereka kompak.

Teman-teman pertama saya di England: satu dari Balikpapan, satu lagi dari Bali. Pure Indonesians! Yang menakjubkan lagi, ternyata satu orang tinggal di flat tepat di bawah flat saya dan satunya lagi di atas. Sejak hari itu, saya segera bertemu banyak teman baru, and you know what.. semua orang Indonesia!

Ha ha.. demikianlah, satu tahun berlalu di England. Jarang ikut pesta-pesta ala England, bahasa utama tetap Bahasa Indonesia, dan gaul, tetap ala Jakarta. Setahun yang berbahagia di England, walau dengan sedikit sekali pengetahuan tentang budaya Inggris asli.

Tahun-tahun berikutnya saya bolak balik lagi ke England, dan selalu tinggal dengan teman yang Indonesia. All these years, and still no English life in England for me.

Tahun berjalan, umur bertambah. Keinginan untuk pesta-pesta dan gaul ala bule Inggris lama-lama hilang dan sudah tidak lagi kelihatan menarik buat saya. Bersamaan dengan itu, datang lagi kesempatan untuk balik ke England. Tapi kali ini, all I wanna have in England are Indonesian friends. Entah kenapa, saya malas gaul ala Inggris. Saya membayangkan betapa nyamannya tinggal dengan teman Indonesia, berbahasa Indonesia, dan yang paling penting: makan masakan Indonesia all the time.

But again, keinginan tinggal keinginan, angan-angan tinggal angan-angan.

Oktober 2005 saya menginjakkan kaki lagi di tanah Inggris yang dingin, tetap tanpa teman, dengan satu contact person sang pembimbing yang Inggris asli. Dalam hati saya berkata “I want Indonesian friends…!”

Bulan-bulan berlalu di England, tak satu pun teman Indonesia yang saya temukan. Pindah dari kota ke kota, dari tempat tinggal satu ke yang lain. Flatmate saya selalu orang Inggris asli, yang kalau ngomong dengan logat dan slang Inggrisnya, cuma sebagian saja yang saya tangkap. Di lab universitas, banyak teman baru datang dan pergi: orang Inggris, Scotland, Jerman, Spanyol, Portugal, Venezuela, Mesir, Oman, Nigeria dll dll. Tak satu pun yang Indonesia.

The Gardeners Arms, within walking distance from home and university

Bersama teman internasional itu, tempat main saya adalah English pub, biarpun minum alkohol seseruput saja. Belajar bahasa slang sehari-hari, bertukar istilah dengan teman berbagai bangsa, banyak gelak tawa. Lucu melihat teman yang ramai bercerita tanpa henti kalau tipsy tapi super pendiam kalau sober. Merayakan acara-acara khas Inggris seperti christmas dinner party di bulan Desember dan pancake party di bulan Februari. Nonton acara TV Little Britain’ yang Inggris banget, juga menikmati English breakfast, roast beef dan Yorkshire pudding serta bread and butter pudding.. yuum..

pancaketitle.gif

Tiba-tiba, banyak yang saya tahu tentang Inggris. Now I feel, I finally start embracing England inside out…. dan itu terjadi di saat saya sebenarnya lebih ingin merasa nyaman dalam rengkuhan budaya Indonesia dan teman-teman Indonesia, seperti masa di Inggris tahun 1999 yang lalu. Kita memang gak selalu bisa dapat apa yang kita mau. English or not English, kalau kita menikmati, kita pasti akan happy-happy saja di England.

Ini akan menjadi tahun terakhir saya di Inggris. Biarpun happy dengan teman-teman dan kultur yang non Indonesia, tapi saya masih ingin ketemu at least one damn Indonesian. Kenapa? Yup, supaya bisa pamer ngobrol pake bahasa Indonesia. Teman-teman internasional sering ngobrol sesama mereka pakai bahasanya sendiri-sendiri. Ngiri juga liatnya, secara memang cuma saya sendiri yang gak punya teman ngobrol dengan bahasa ibu.

Sedihnya….

One thought on “England

  1. I am sure that there is no place like home!! to be honest I am a bit jealous with your opportunity to have chance to live in other country and understand more about their culture.
    Here almost everyday I have to speak English in regards of my business work and I am super happy to be able to meet deferent people with deferent background as this are always enrich my understanding about diversity and colorful culture.
    I think the combination of western logic and eastern sense will create a better human being!! what do you think ?


    “Diah says:
    Eh, tapi percaya gak percaya, saya BELUM PERNAH ke Bali lho ha ha ha.. cuma mampir di bandaranya waktu transit mau ke Lombok. So, I envy you! karena tinggal di Bali. Sigh..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s