Anoa Lambusango: Sebuah ironi
January 22, 2008
catatan lapangan terbaru dari Buton
Sigh. Ya, saya harus menghela nafas dulu sebelum memulai tulisan ini. Sedih, itu saja alasannya.
Di Pulau Buton, kebanyakan orang menghormati anoa seperti orang Sumatera menghormati harimau. Bahkan menyebut namanya pun tabu, ‘nenek’ demikian mereka menyebutnya. Anoa dipercaya sebagai penguasa hutan, ganas dan mematikan. Anoa adalah tunggangan yang perkasa bagi mahluk halus penghuni hutan. Tak ada yang bisa dilakukan manusia selain menghindarinya jauh-jauh. Hingga saat ini, sebagian orang masih enggan membicarakan anoa karena takut terkena tulah, celaka karena anoa bila suatu saat bertemu dengan binatang tersebut.
Bagi anoa sendiri, akankah kepercayaan lama ini melindungi mereka dari bahaya hilang selamanya dari muka bumi?
Hutan Lambusango di Buton seluas 63.000 ha mungkin merupakan rumah layak terakhir bagi anoa yang masih bertahan di pulau ini. Perkiraan tahun 2005 menyebutkan jumlah anoa di hutan ini tinggal 150 ekor saja. Dan dari hitung menghitung jejak mereka di hutan Lambusango pada 2005-2007, kita mengetahui bahwa kemungkinan menemukan anoa semakin menurun nyata dari tahun ke tahun.
Hitungan jumlah anoa yang pasti memang belum ada, tapi dari kemungkinan melihat jejak mereka yang semakin turun itu, kita bisa mengatakan bahwa jumlah mereka terus berkurang, dan perlahan akan menghilang selamanya.
Selain kepercayaan turun temurun, hampir semua orang di Buton mengetahui bahwa anoa dilindungi undang-undang, dilarang dihilangkan dari habitatnya apalagi dibunuh. Akan tetapi perburuan terus terjadi. Sepuluh pemburu mengaku telah membunuh sedikitnya 200 anoa di hutan Lambusango dalam 15 tahun terakhir.
Masih banyak pemburu lain di hutan Lambusango yang belum bercerita pada kita. Masih lebih banyak lagi anoa yang mati dan akan mati dari hutan Buton yang tersisa ini.
Ironisnya, bagi sebagian besar pemburu, berburu anoa adalah pekerjaan sampingan, hobi atau iseng saja. Pemburu pun tahu bahwa anoa adalah satwa dilindungi, dan mereka sadar, perburuan ini dapat menyeret mereka ke depan hukum.
Bagi masyarakat umum, tidak ada yang istimewa tentang daging anoa. Daging anoa bukan obat mujarab yang dicari-cari. Hanya ada 4 catatan dari 4 orang tentang khasiat anoa sebagai obat di Buton. Tanduk dibakar dan asapnya dipakai untuk obat bila menginjak binatang (laut) yang berbisa. Janin diawetkan untuk obat pengembalian energi. Daging dimakan sebagai menambah kejantanan pria dan empedu untuk obat asthma. Tak ada kesan yang istimewa tentang konsumsi binatang yang langka, endemik dan dilindungi ini.
Pada akhirnya, di pulau Buton, anoa yang agung adalah binatang biasa. Binatang yang dengan mudah terkena jerat di hutan, dengan mudah diburu dengan tombak dan anjing. Bagi orang-orang ‘pemberani’, anoa adalah penghasilan sampingan, sedang bagi kebanyakan lainnya, anoa adalah lauk biasa, di antara ikan dan telur, karena tahu dan tempe pun sudah langka sekarang.

January 22, 2008 at 5:05 pm
mungkin memang harus dipopulerkan jadi ‘binatang biasa’ supaya gak lagi diburu. Lagian katanya daging sapi hutan lebih mahal dari daging anoa. Mari rame2 makan daging sapi….. lho???
January 22, 2008 at 8:50 pm
Anoa tetaplah anoa…
Jika di keramatkan ..mungkin ada maksudnya…
Positfnya adalah bila anao banyak di konsumsi akan musnah..
Negatifnya… kepercayaan itu bikin orang jadi syirik…
Pikirkan saja posifnyanya, jangan ambil negatifnya
Dan kita jaga keseimbangan hidupnya..
January 23, 2008 at 10:49 am
Kenapa gak di ternak aja ya..??
“Diah says:
Sayangnya sampe sekarang anoa belum bisa diternakkan. Selain sudah langka, jadi tidak bisa ambil calon ternak dari hutan lagi, anoa ini ganas dan saling membunuh sesamanya. Anoa juga tidak pernah menjadi jinak, bikin susah aja kalo diternak. Paling baik ya buat warisan alam Indonesia saja. Dibanggakan di tempat aslinya hutan sana
January 23, 2008 at 4:18 pm
Bagaimana kabar kubangan Anoa di SM. Tanjung Amolengo?
Pernah sekali ke sana, tapi gak pernah liat Anoanya.
Tempatnya bagus, seperti di Panua kalo mau nonton Babirusa.
“Diah says:
Blum pernah ke sana Wan. Kata Pak A.H. Mustari cuma ada 8-12 anoa di sana, pantes susah liatnya
January 23, 2008 at 11:53 pm
Mungkin pengelolaan perburuan yang harus di coba juga, nantinya bukan Anoa saja tapi semua binatang. Namun agak polemik juga karena umumnya perburuan di Indonesia lebih kepentingan ekonomi semata, not for fun….anywey…suatu saat pasti ada titik balik, semuanya akan climax kok
“Diah says:
Iya, asal klimaksnya gak karena mass extinction aja
January 24, 2008 at 6:54 am
Kalau kata Dr. Ian Malcolm di Jurassic Park, “Life will find a way”. Let’s hope that “the way” will not disastrous.
“Diah says:
sigh (again)”
January 24, 2008 at 1:03 pm
Anoa..anoa.. malang benar nasibmu…Sebenarnya ada aksi nyata yang bisa kita lakukan ngga sech…? Bukannya binatang ini dah dilindungi ama pemerintah. Lagipula katanya orang Buton pada takut sama Anoa karena kalo membunuhnya pun ntar kualat (yang aku denger lho…). Yach.. ga ngerti dech… padahal ga ada yang istimewa dgn daging anoa. Bisa jadi karena ngga ada makanan lain ya…? Jadi pas Anoa ketangkap ya hajar aja.
“Diah says:
anoa dimakan karena kebetulan sengaja ditangkep, bukan karena gak ada makanan lain. Well, we will eventually find a way to save them”
January 25, 2008 at 2:11 am
kayak india dong…tp mereka milih sapi bukan anoa…sapi mah gampang nemunya…kalo anoa kan hrs ke sulawesi dulu spy bs dapet..hhehehehe
Diah says:
mmm… sebenarnya mereka tidak mendewakan anoa, cuma ‘hormat’ karena takut aja kali ya. Itu juga jaman dulu, sekarang-sekarang udah mulai hilang. Makasih udah mampir ya Cha..”
January 25, 2008 at 12:09 pm
sudah tau itu binatang langka.
ga berharga bila dijual.
tp kok ya masih diburu, karena iseng belaka?
dasar orang indonesia…
ntar kalo anoa diaku sama malaysia sebage binatang khas Malaysia…baru aja ribut
“Diah says:
Huehehehe bener banget!”
January 25, 2008 at 12:51 pm
…jadi inget ngobrol sama a friend, soal latar belakang kenapa sih ribut2 forest conservation di buton, terus gw bilang a.l karena endemic speciesnya, e.g anoa, and doi bilang ‘oo anoa…, a kinda bird…’ lha??
“Diah says:
Wah memang harus bikin blog sendiri yang didedikasikan buat satwa Indonesia nih, biar lebih pada kenal. Gimana Mbak Nun? Yok?”
January 25, 2008 at 6:21 pm
bisakah/mudahkah anoa diternakan seperti halnya sapi dan kambing?
saya sempet lihat dua ekor anoa di Singapore Zoo sekitar tiga bulan yg lalu. semoga mereka bisa beranak pinak…
“Diah says:
Dengan menyesal saya harus menjawab, sampai sekarang belum bisa
February 19, 2008 at 6:45 pm
anoa tu binatang paling anjing tau ga lu
“Diah says:
Wuaah ya enggak dong. anjing tu ya anjing, kalo anoa itu sejenis kebo huehee. Ngatain binatang kok pake binatang juga”
July 16, 2008 at 11:52 pm
Saya mengenal anoa sebagai dongeng. Saya belum pernah melihatnya. Lebih gampang menemukan harimau sebab binatang buas itu ada di kebun binatang. Anoa?
September 18, 2008 at 9:05 am
Kalau Anoa Punah di dataran Sulawesi Tenggara, Pemerintah yang paling bertanggung jawab, sebab Logo Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara itu kan Kepala Anoa, malu kan … kalau itu terjadi.
October 18, 2008 at 10:50 am
keprihatinan atas kondisi populasi anoa yang terbaru g hanya bisa kita publikasikan di dunia maya ini mbak, kita harus bisa mendorong pemerintah di Bumi SUlawesi bahkan kalau bisa Menekan mereka terutama pemerintah SUlawesi Tengggara yang menggunakan kepala anoa sebagai Logo Provinsi namun g punya perencanaan dan aksi konservasi yang matang di masa kini dan masa mendatang. mohon dukungan ya mbak tuk rencana penelitan ku moga dapat mendorong pemprov sultra dalam masalah anoa ini